prinsip dasar multimedia
multimedia adalah penggunaan komputer untuk menggabungkan informasi berupa teks, gambar, suara, animasi , atau bahkan video untuk ditampilkan untuk pengguna komputer . Ada dua jenis multimedia yaitu multimedia linear (tetap) dan multimedia interaktif (dapat dikendalikan). Pada multimedia interaktif, pengguna diberikan fasilitas untuk mengendalikan atau memainkan elemen-elemen multimedia yang tersedia. Dan apabila dalam aplikasi multimedia tersebut disediakan struktur dari elemen terhubung yang dapat dikendalikan oleh pemakai / pengguna, maka Interactive Multimedia tersebut menjadi Hypermedia. Contoh mudah multimedia linear adalah media televisi. Dalam pemanfaatan televisi tidak terjadi suatu interaksi dari pengguna untuk mampu mengendalikan objek multimedia yang dihasilkan. Sedangkan multimedia interaktif yaitu pada game dan aplikasi dari komputer. Pengguna diberikan fasilitas kontrol agar multimedia dapat berubah sesuai keinginan. Sedangkan seorang atau sekelompok orang yang merancang dan membangun sebuah multimedia disebut Multimedia Developer.
prinsip-prinsip multimedia:
1. Prinsip Multimedia
Prinsip multimedia berbunyi murid bisa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar-gambar daripada dari kata-kata saja (Mayer, 2009:93). Yang dimaksudkan dengan kata-kata adalah teks tercetak di layar yang dibaca pengguna atau teks ternarasikan yang didengar pengguna melalui speaker atau headset. Yang dimaksudkan dengan gambar adalah ilustrasi statis seperti gambar, diagram, grafik, peta, foto, atau gambar dinamis seperti animasi dan video. Clark & Mayer (2011:70) menggunakan istilah penyajian multimedia untuk menyebut segala penyajian yang berisi kata-kata dan gambar.
Mayer (2009:93) beralasan bahwa saat kata-kata dan gambar-gambar disajikan secara bersamaan, siswa punya kesempatan untuk mengkonstruksi model-model mental verbal dan piktorial dan membangun hubungan di antara keduanya. Sedangkan jika hanya kata-kata yang disajikan, maka siswa hanya mempunyai kesempatan kecil untuk membangun model mental piktorial dan kecil pulalah kemungkinannya untuk membangun hubungan di antara model mental verbal dan piktorial.
2. Prinsip Keterdekatan
Prinsip keterdekatan terbagi dua, yaitu keterdekatan ruang atau keterdekatan kata tercetak dengan gambar yang terkait (Mayer, 2009:119; Clark & Mayer, 2011:92) dan keterdekatan waktu atau keterdekatan kata-kata ternarasi dengan gambar yang terkait (Mayer, 2009:141; Clark & Mayer, 2011:102). Prinsip keterdekatan ruang menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik saat kata-kata tercetak dan gambar-gambar yang terkait disajikan saling berdekatan daripada disajikan saling berjauhan (Mayer, 2009:119). Sedangkan prinsip keterdekatan waktu menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika kata-kata ternarasikan dan gambar-gambar yang terkait (animasi atau video) disajikan pada waktu yang sama (simultan) (Mayer, 2009:141).
Alasan Mayer (2009:119) berkaitan prinsip keterdekatan ruang adalah saat kata-kata dan gambar terkait saling berdekatan di suatu layar, maka murid tidak harus menggunakan sumber-sumber kognitif untuk secara visual mencari mereka di layar itu. Siswa akan lebih bisa menangkap dan menyimpan mereka bersamaan di dalam memori kerja pada waktu yang sama. Sedangkan untuk keterdekatan waktu, Mayer (2009:141) beralasan bahwa saat bagian narasi dan bagian animasi terkait disajikan dalam waktu bersamaan, siswa lebih mungkin bisa membentuk representasi mental atas keduanya dalam memori kerja pada waktu bersamaan. Hal ini lebih memungkinkan siswa untuk membangun hubungan mental antara representasi verbal dan representasi visual.
3. Prinsip Modalitas
Prinsip modalitas menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik dari animasi dan narasi (kata yang terucapkan) daripada dari animasi dan kata tercetak di layar (Mayer, 2009:197). Berdasarkan teori kognitif dan bukti riset, Clark & Mayer (2011:117) menyarankan untuk menarasikan teks daripada menyajikan teks tercetak di layar saat gambar (statis maupun bergerak) menjadi fokus kata-kata dan saat keduanya disajikan pada waktu yang bersamaan.
Mayer (2009:197) beralasan bahwa jika gambar-gambar dan kata-kata sama-sama disajikan secara visual, maka saluran visual akan menderita kelebihan beban tapi saluran auditori tidak termanfaatkan. Jika kata-kata disajikan secara auditori, mereka bisa diproses dalam saluran auditor, sehingga saluran visual hanya memproses gambar.
4. Prinsip Koherensi
Prinsip koherensi menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika hal-hal ekstra disisihkan dari sajian multimedia (Mayer, 2009:167). Prinsip koherensi terbagi atas tiga versi, yaitu pembelajaran siswa terganggu jika gambar-gambar menarik namun tidak relevan ditambahkan (Mayer, 2009:170; Clark & Mayer, 2011:159), pembelajaran siswa terganggu jika suara dan musik menarik namun tidak relevan ditambahkan (Mayer, 2009:181; Clark & Mayer, 2011:153), dan pembelajaran siswa akan meningkat jika kata-kata yang tidak dibutuhkan disisihkan dari presentasi multimedia (Mayer 2009:188; Clark & Mayer, 2011:166).
Mayer (2009:167) mengemukakan alasan teoretis bahwa materi ekstra selalu bersaing memperebutkan sumber-sumber kognitif dalam memori kerja sehingga bisa mengalihkan perhatian siswa dari materi yang penting. Hal-hal ekstra juga bisa menganggu proses penataan materi dan bisa menggiring siswa untuk menata materi di atas landasan tema yang tidak sesuai.
5. Prinsip Redundansi
Prinsip redundansi menyatakan bahwa siswa belajar lebih baik dari gambar dan narasi daripada dari gambar, narasi, dan teks tercetak di layar (Mayer, 2009:215). Implikasi dari hal ini adalah saran dari Clark & Mayer (2011:125) untuk tidak menambahkan teks tercetak di layar ke gambar yang sedang dinarasikan.
Clark & Mayer (2011:135) mengemukakan alasan bahwa siswa akan lebih memperhatikan teks tercetak di layar daripada ke gambar yang berkaitan. Saat mata mereka fokus di kata-kata tercetak, siswa tidak bisa melihat ke gambar yang sedang dinarasikan. Juga, siswa berusaha membandingkan teks tercetak dengan narasi yang diucapkan sehingga membebani proses kognitif. Karena itulah, untuk gambar yang sedang dinarasikan, hendaknya tidak ditambahkan teks tercetak di layar.
6. Prinsip Personalisasi
Prinsip personalisasi menyarankan agar pengembang multimedia menggunakan gaya percakapan dalam narasi daripada gaya formal (Clark & Mayer, 2011:182). Gaya percakapan di antaranya dicapai dengan menggunakan bahasa orang pertama dan orang kedua serta dengan suara manusia yang ramah.
Clark & Mayer (2011:184) menyatakan bahwa riset dalam proses diskursus menunjukkan bahwa manusia bekerja lebih keras untuk memahami materi saat mereka merasa berada dalam percakapan dengan seorang teman, daripada sekadar menerima informasi. Mengekspresikan informasi dalam gaya percakapan dapat merupakan cara untuk mempersiapkan proses kognitif siswa. Clark & Mayer (2011:184) menambahkan pula bahwa instruksi yang mengandung petunjuk sosial seperti gaya percakapan mengaktifkan perasaan kehadiran sosial, yaitu perasaan sedang dalam percakapan dengan pengarang. Perasaan kehadiran sosial ini mengakibatkan pembelajar terlibat dalam proses kognitif yang lebih dalam selama belajar dengan berusaha lebih keras memahami apa yang pengarang ucapkan, yang hasilnya adalah hasil belajar yang lebih baik.
7. Prinsip Segmentasi dan Pra Latihan
Prinsip segmentasi menyarankan untuk memecah materi pelajaran yang besar menjadi segmen-segmen yang kecil (Clark & Mayer, 2011:207). Saat sebuah materi pembelajaran kompleks, materi itu perlu dibuat menjadi sederhana dengan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang dapat diatur kemunculannya.
Clark & Mayer (2011:210) beralasan bahwa saat siswa menerima sajian yang berkelanjutan dan berisi konsep-konsep yang saling berhubungan, hasilnya adalah sistem kognitif menjadi kelebihan muatan, terlalu banyak pemrosesan yang dibutuhkan. Siswa tidak mempunyai kapasitas kognitif yang cukup untuk dilibatkan dalam pemrosesan esensial yang dibutuhkan untuk memahami materi tersebut. Solusi masalah di atas adalah membagi-bagi materi pelajaran menjadi beberapa bagian yang dapat diatur, misalnya dengan memberi tombol “Lanjutkan”.
Prinsip pra-latihan menyarankan untuk memastikan siswa mengetahui nama dan karakteristik konsep-konsep penting (Clark & Mayer, 2011:212). Sebelum siswa belajar proses atau mengerjakan latihan pada suatu multimedia interaktif, hendaknya siswa diberi materi konsep-konsep penting berkaitan dengan proses yang akan dipelajari atau latihan yang akan dikerjakan. Contohnya, sebelum siswa melihat video demonstrasi cara membuat tabel basis data, siswa perlu mengetahui apa itu tabel, field, dan primary key.
Clark & Mayer (2011:215) menyatakan bahwa pra latihan dapat membantu pemula untuk mengelola pemrosesan materi kompleks dengan mengurangi jumlah pemrosesan esensial yang mereka lakukan saat presentasi disajikan. Saat siswa sudah mengetahui apa itu primary key, mereka bisa mengalokasikan proses kognitif untuk membangun model mental bagaimana peran primary key dalam perancangan sebuah tabel. Dengan demikian, alasan diperlukannya prinsip pra-latihan adalah prinsip ini membantu pengelolaan pemrosesan esensial yang dilakukan siswa dengan mendistribusikan materi-materi ke dalam bagian pra-latihan dari materi pembelajaran.
8. Prinsip Interaktivitas
Siswa bisa belajar lebih baik ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya (manipulatif: simulasi, game, branching). Sebenarnya, orang belajar itu tidak selalu linier alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat dari satu hal ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang konsisten dan jelas, bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan tingkat interaktivitas makin tinggi.
9. Prinsip Sinyal
Siswa bisa belajar lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu.
10. Prinsip Perbedaan Individu
Pengaruh desain lebih kuat terhadap siswa berpengetahuan rendah daripada berpengetahuan tinggi, dan terhadap siswa berkemampuan spasial tinggi daripada berspasial rendah. Siswa yang berpengetahuan lebih tinggi bisa menggunakan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya untuk mengkompensasi atas kurangnya petunjuk dalam presentasi. Siswa yang berpengetahuan rendah kurang bisa melakukan pemrosesan kognitif yang berguna saat presentasinya kurang petunjuk. Siswa yang memiliki kemampuan spasial yang tinggi memiliki kapasitas kognitif untuk secara mental memadukan reprentasi verbal dan visual dari presentasi multimedia yang ada. Siswa yang berspasial rendah harus mengerahkan kapasitas kognitif yang begitu banyak untuk memahami apa yang disajikan.
11. Prinsip Praktek
Interaksi adalah hal terbaik untuk belajar, kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat meningkatkan cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang sedang dipelajari.
12. Pengandaian
Menjelaskan materi dengan audio meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi, daripada dari animasi dan teks pada layar
Kesimpulannya penggunaan multimedia (kombinasi antara teks, gambar, grafik, audio/narasi, animasi, simulasi, video) secara efektif untuk mengakomodir perbedaan modalitas belajar.
pertanyaan :
1. bagaimana cara atau metode yang di gunakan dalam proses pemamfaatan media pembelajaran
2. bagaimana perbedaan pengunaan yg lebih baik konvensional atau metode multimedia ?
Saya akan mencoba menjawab permasalahan anda yang nomor , Selain multi media yang telah disediakan di Sekolah, ada juga guru mempunyai kekereatifan untuk menggunakan multi media yang lain seperti radio, buku Koran majalah dan bahkam siswanya diperbolehkan untuk membawa Handpone, Yab dan yang lainnya, untuk mengakses atau untuk mencarimateri yang akan dibahas pada saat proses belajar mengajar berlangsung, dengan seperti itu maka siswa tidak akan bosan unbtuk belajar.
BalasHapusMetode belajar yang lainnya juga bisa digunakan, misalkan seorang guru memberikan kuis untuk siswanya, tetapi caranya itu adalah guru memberikan soal dengan cara yang unik dan siswapun menjawab dengan cara mengangkat tangan dan siapa yang tercepat dalam menjawab soal. Proses belajarnya pun bisa di luar kelas,misalkan di taman sekolah dan sebagainya, dengan cara tersebut maka siswa akan lebih semangat dalam belajarnya.
Proses belajar dengan menggunakan metode diskusi juga masih digunakan oleh guru,karena dengan cara itu siswa mampu berdiskusi untuk memecahkan masalah atau dapat menemukan materi yang akan dicari sesuai dengan materi yang telah diberikan, setelah itu kelompok tersebut akan mempresentasikan hasil diskusi mereka didepan kelas.
Disini saya akan memberikan jawaban nomor 1.
BalasHapusA. Strategi Pemanfaatan
1. Persiapan Sebelum Menggunakan Media.
Pertama-tama pelajari buku petunjuk yang telah disediakan. Kemudian kita mengikuti petunjuk-petunjuk itu.
2. Kegiatan Selama Menggunakan Media.
Gangguan-gangguan yang dapat mengganggu perhatian dan konsentrasi harus dihindarka.
3. Kegiatan Tidak Lanjut.
Maksud dari kegiatan tindak lanjut adalah untuk menjajagi apakah tujuan telah tercapai. Selain itu, untuk memantapkan pemahaman terhadap materi instruksional yang telah disampaikan melalui media bersangkutan.
B. Pemanfaatan Media Dalam Pembelajaran
1. Media Berbasis Visual
Dalam proses penataan itu harus diperhatikan prinsip-prinsip, antara lain prinsip kesederhanaan, keterpaduan, penekanan, dan keseimbangan.
2. Media Berbasis Audio Visual
Sebaiknya materi audio itu disajikan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
a. Mempersiapkan diri.
b. Membangkitkan kesiapan siswa.
c. Mendengarkan materi audio.
d. Diskusi (pembahasan) materi program audio.
e. Menindaklanjuti program.
3. Kombinasi Slide dan Suara
Gabungan Slide (film bingkai) dengan tape audio adalah jenis sistem multimedia yang paling mudah diproduksi. Media pembelajaran gabungan slide dan tape dapat digunakan pada berbagai lokasi dan untuk berbagai tujuan pembelajaran yang melibatkan gambar-gambar guna menginformasikan atau mendorong lahirnya respons emosional.
Keefektifan penyajian pelajaran melalui multimedia seperti ini memerlukan perhatian khusus kepada faktor-faktor sebagai berikut :
a. Sajikan konsep-konsep satu per Satu
b. Gunakan bidang penayangan dilayar untuk tujuan-tujuan tertentu untuk menyampaikan pesan materi pelajaran.
c. Susunlah unsur-unsur gambar itu dan aturlah hubungan atara unsur-unsur itu, dengan pertimbangan bahwa pesan utama diletakan ditengah tengah layar dan informasi lainnya pada sisi-sisinya.
d. Pilihlah slide yang berkualitas.
e. Pilihlah musik yang dapat menyentuh perasaan untuk penyajian, tetapi perhatikan jangan sampai musik mengatasi narasi.
f. Gunakan efek suara asli untuk memberikan bayangan realism dalam penyajian.
g. Jangan terlalu banyak narasi.
h. Dalam beberapa hal, penggunaan lebih dari satu suara dalam narasi akan membuat penyajian lebih dinamis.[5]
4. Media Berbasis Komputer
Berikut pemanfaatan media berbasis komputer :
a. Tutorial
Program pembelajaran tutorial dengan bantuan komputer meniru sistem tutor yang dilakukan oleh guru atau instruktur.
b. Drills and Practice (Latihan)
Latihan untuk mempermahir keterampilan atau memperkuat penguasaan konsep dapat dilakukan dengan modus drills and practice. Komputer menyiapkan serangkaian soal atau pertanyaan yang serupa dengan yang biasa ditemukan dalam buku/lembarn kerja workbook.
c. Simulasi
Program simulasi dengan bantuan komputer mencoba untuk menyamai proses dinamis yang terjadi di dunia nyata.
d. Permainan Instruksional
Program permainan yang dirancang dengan baik dapat memotivasi siswa dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Permainan instruksional yang berhasil menggabungkan aksi-aksi permainan video dan keterampilan penggunaan papan ketik pada komputer.
5. Multimedia Berbasis Komputer dan Interaktif video
Multimedia yang dikenal adalah berbagai macam kombinasi grafik, teks, suara, video, dan animasi.
6. Media Berbasis Internet
E-Learning juga dikenal dengan istilah Distance Learning atau pembelajaran jarak jauh. E-Learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana video conference.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan anda yang nomor 2.
BalasHapusMenurut saya, multimedia pembelajaran muncul karena metode konvensional. Dengan adanya multimedia pembelajaran, maka proses belajar mengajar akan lebih mudah dan menarik untuk siswa. Dan siswa pun pastinya akan lebih mudah memahami pelajaran. Karena seperti yang kita tahu, didalam multimedia terdapat berbagai media yang menarik seperti radio, koran, grafis, audio, visual, maupun video.
Untuk perbandingannya, dapat dilihat dibawah ini.
1. Metode konvensional tidak memerlukan biaya. Sedangkan metode multimedia memerlukan biaya untuk infra struktur.
2. Metode konvensional mudah dilaksanakan. Sedangkan metode multimedia memerlukan konektivitas jaringan.
3. Metode konvensional menuntut adanya interaksi antara guru dn siswa terjadi lebih cepat. Sedangkan metode multimedia lebih bersifat fleksibel.
Cara pemanfaatan media dalam pembelajaran yaitu untuk mempermudah mudah guru dalam mengatasi kekurangan nya, misalnya dengan materi struktur atom guru bisa menggunakan media seperti roti goodtike agar siswa lebih cepat menginngatnya
BalasHapusCara pemanfaatan media dalam pembelajaran yaitu untuk mempermudah mudah guru dalam mengatasi kekurangan nya, misalnya dengan materi struktur atom guru bisa menggunakan media seperti roti goodtike agar siswa lebih cepat menginngatnya
BalasHapusMenurut saya belajar menggunakan media akan lebih menyenangkan, dibandingkan konvensional. Karena media akan membuat siswa lebih mengerti dan paham, dibandingkan dengan konvensional.
BalasHapusMenurt saya lebih baik menerapkan multimedia karna apa karna disitu guru memanfaatkam kemajuan teknologi dan juga ketika guru menggunakan multimedia pasti itu sangat menarik minat siswa untuk belajar
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan no 2
BalasHapusMenurut saya yang lebih baik adalah pembelajaran menggunakan multimedia dari pada pembelajaran konvensional. Dimana dengan multimedia maka akan lebih menarik perhatian siswa karena menggunakan alat peraga dalam membantu dalma penyampaian materi. Jika dibandingkan dengan konvensional maka tentu siswa akan lebih cepat bosan karena pada umumnya guru hanya mengandalkan metode ceramah.
Terimakasih atas postingan nya sangat bermamfaat
BalasHapusTerimakasih atas postingan nya sangat bermamfaat
BalasHapusTetimakasih materinya cukup membantu
BalasHapusMenurut saya belajar dengan menggunakan media lebih efektif karena dari sini akan mendorong semangat siswa untuk giat belajar.
BalasHapusMenurut saya metode yang digunakan dalam pemanfaatan media itu dengan yang bisa dengan mudah digunakan oleh anak didik atau yang sudah umum bagi anak didik
BalasHapusMaterinya sudah cukup membantu. Terimaksih
BalasHapusPostingan nya sangat membantu untuk tugas kuliah saya
BalasHapusPostingan nya sangat membantu untuk tugas kuliah saya
BalasHapusSaya akan menambahkan permasalahan nomor 2. Dimana saya hanya akan menambahkan contohmisalkan seorang guru memberikan kuis untuk siswanya, tetapi caranya itu adalah guru memberikan soal dengan cara yang unik dan siswapun menjawab dengan cara mengangkat tangan dan siapa yang tercepat dalam menjawab soal. Proses belajarnya pun bisa di luar kelas,misalkan di taman sekolah dan sebagainya, dengan cara tersebut maka siswa akan lebih semangat dalam belajarnya.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusguru memberikan soal dengan cara yang unik dan siswapun menjawab dengan cara mengangkat tangan dan siapa yang tercepat dalam menjawab soal. Proses belajarnya pun bisa di luar kelas,misalkan di taman sekolah dan sebagainya, dengan cara tersebut maka siswa akan lebih semangat dalam belajarnya.
BalasHapus