TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA

PENGERTIAN TEORI PEMROSESAN INFORMASI

Belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku seseorang dalam situasi tertentu yang disebabkan oleh “pengalaman berulang” terhadap situasi tersebut. Dalam tinjauan psikologi kognitif belajar diartikan sebagai The process of acquiring knowledge (proses memperoleh pengetahuan). Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman hidup yang dialami oleh si pelajar agar menjadi mandiri. Belajar erat kaitannya dengan pengembangan kognitif (penguasaan intelektual), afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) dan psikomotorik(keterampilan bertindak atau berprilaku). Dalam pandangan pakar psikologi belajar kognitifis, keberhasilan belajar di ukur oleh kematangan kognisi si pelajar, dalam hal ini otak sebagai organ tubuh yang berkaitan dengan intelejensi, menjadi sangat dominan sebagai pusat memori.
Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif, bagi sibernetik mengkaji proses belajar  penting dari hasil belajar, namun yang lebih penting  dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Teori sibernetik berasumsi bahwa tidak ada satu proses belajar pun yang ideal untuk segala situasi, dan yang cocok untuk semua siswa. Asumsi ini didasarkan pada suatu pemahaman yaitu cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi. Dengan penjelasan saat seorang siswa dapat memperoleh informasi dengan satu proses dan siswa yang lain juga dapat memperoleh informasi yang sama namun dengan proses belajar yang berbeda.
Pemrosesan informasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data, menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya. Bahkan orientasi utama pada modelnya mengarah kepada kemampuan siswa  dalam mengolah, menguasai informasi sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan didapatkannya.
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.

·                     Menurut Gagne

Berdasarkan kondisi internal dan eksternal, Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut :
1.      Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2.      Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3.      Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Seperangkat proses yang bersifat internal yang dimaksud oleh Gagne adalah kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan terjadinya proses kognitif dalam diri individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut teori ini, belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori ini menganggap sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses dan bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem informasi yang dipelajari.
Robert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengembangkan teori belajar yang mencapai kulminasinya (titik uncak) pada “The Condition of Learning”. Banyak gagasan Gagne tentang teori belajar, seperti belajar konsep dan model pemrosesan informasi, pada bukunya “The Condition of Learning” mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a cognitive strategy is a control process . An internal process by means of which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:

1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.

Asumsi yang mendasari teori-teori pemrosesan informasi menjelaskan tentang (1) hakekat sistem memori manusia, dan (2) cara bagaimana pengetahuan digambarkan dan disimpan dalam memori. Konsepsi lama mengenai memori manusia adalah bahwa memori itu semata-mata hanya tempat penyimpanan untuk menyimpan informasi dalam waktu yang lama, sehingga memori diartikan sebagai koleksi potongan-potongan kecil informasi yang terlepas-lepas atau saling tidak ada kaitannya. Akan tetapi pada tahun 1960-an memori manusia mulai dipandang sebagai suatu struktur yang rumit yang mengolah dan mengorganisasi semua pengetahuan manusia
Metode ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur kecepatan spontanitas kelenturan daya tahan. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan peran orang tua. Kekurangan metode ini adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru bersifat mekanistis dan hanya berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif, murid hanya mendengarkan, menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan bersifat otoriter.

·                     Menurut Atkinson

Teori pemrosesan informasi ini didasarkan pada model memori dan penyimpanan yang dikemukakan oleh Atkinson dan Shiffin yang menyatakan bahwa memori manusia terdiri dari tiga jenis yaitu sensori memori (sensory register) yang menerima informasi melalui indra penerima seperti mata, telinga, hidung, mulut, dan atau tangan, setelah beberapa detik, informasi tersebut akan hilang atau diteruskan pada ingatan jangka pendek (short term memory atau working memory). Informasi tersebut setelah 5-20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam ingatan jangka panjang ( long term memory). 
Atkinson dan Shiffin dalam Levitin (2002:296) menyatakan bahwa memori manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu sensori memori (sensory register) yang menerima informasi melalui indra penerima seperti mata, telinga, hidung, mulut, dan atau tangan, setelah beberapa detik informasi tersebut akan hilang atau diteruskan pada ingatan jangka pendek (short term memory atau workingmemory). Informasi tersebut setelah 5 – 20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam ingatan jangka panjang (long term memory).
Teori pemrosesan informasi berpijak pada tiga asumsi sebagaimana dikemukakan Lusiana dalam Budiningsih (2005:82) bahwa: (a) antara stimulus dan respon terdapat suatu seri pemrosesan informasi di mana pada masing-masing tahapan
dibutuhkan sejumlah waktu tertentu, (b) stimulus yang diproses melalui tahapan tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau isinya, dan (c) salah satu dari tahap memiliki keterbatasan kapasitas.

Proses pengolahan informasi dalam ingatan manusia diolah dalam tahapan yang berurutan, dan tiap tahapan terjadi struktur tertentu dalam sistem memori. Pencatat indra khususnya visual dan pendengaran, menerima isyarat-isyarat yang luas sekali macamnya dari lingkungan. Beberapa informasi disimpan sebentar (0,5 sampai 2,0 detik) saja di dalam pencatat indera. Informasi yang telah dipilih untuk diolah lebih lanjut masuk kedalam memori jangka pendek atau memori kerja.
Sedangkan informasi yang tidak diakomodir untuk diolah lebih lanjut selanjutnya akan hilang dari sistem. Dalam memori kerja atau jangka pendek informasi tersebut selanjutnya disandikan menjadi wujud yang bermakna dan dikirim ke memori jangka panjang untuk disimpan secara tetap. Proses penyandian informasi dan pengiriman ke memori jangka panjang merupakan fase inti dari belajar.
Letivin (2002:322) menyatakan terdapat tiga jenis informasi di dalam memori yang mudah untuk diingat kembali adalah informasi yang disampaikan secara terus menerus, informasi tentang hal-hal yang terbaru, dan informasi tentang kejadian-kejadian yang tidak biasa dialami. Dengan demikian, pengulangan adalah yang terpenting dalam sistem memori manusia. Dengan pengulangan akan memudahkan informasi yang berada di ingatan jangka pendek masuk ke ingatan jangka panjang dan lebih mudah untuk memanggil kembali informasi yang berada di ingatan jangka panjang muncul di ingatan jangka pendek.
Implikasi dari teori pemrosesan informasi yang memandang belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori manusia seperti layaknya sebuah cara kerja komputer dan karena memori memiliki keterbatasan kapasitas, pembelajaran harus dapat untuk menarik perhatian siswa dan menyediakan aplikasi berulang dan praktik secara individual agar informasi yang diberikan mudah dicerna dan dapat bertahan lama dalam memori siswa, dan aplikasi komputer memiliki semuanya dengan kualitas yang sangat baik.

MODEL PEMROSESAN INFORMASI

Pada hakikatnya model pembelajaran dengan pemerosesan informasi didasarkan pada teori belajar kognitif. Model pembelajaran tersebut berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi dan sistem yang dapat memperbaiki kemampuan belajar siswa. Pemrosesan informasi menunjuk kepada cara-cara mengumpulkan atau menerima stimulus dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep dan pemecahan masalah serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non-verbal.
Proses informasi dalam ingatan dimulai dari proses penerimaan informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (stroge ) dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informas-informasi yang telah disimpan dalam ingatan (retrival ). Teori belajar pemerosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan.
Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam memori. Sistem syaraf menggunakan kode internal yang merepresentasikan stimulus eksternal. Dengan cara ini representasi objek/kejadian eksternal dikodekan menjadi informasi internal dan siap disimpan.
Stroge adalah informasi yang diambilkan dari memori jangka pendek kemudian diteruskan untuk diproses dan digabungkan ke dalam memori jangka panjang. Namun tidak semua informasi dari memori jangka pendek dapat disimpan. Kunci penting dalam penyimpanan di memori jangka panjang adalah adanya motivasi yang cukup untuk mendorong adanya latihan berulang hal-hal dari memori jangka pendek.
Retrival adalah hasil akhir dari proses memori. Mengacu pada pemanfaatan informasi yang disimpan. Agar dapat diambil kembali, informasi yang disimpan tidak hanya tersedia tetapi juga dapat diperoleh karena meskipun secara teoritis informasi yang disimpan tersedia tetapi tidak selalu mudah untuk menggunakan dan menempatkannya.
Teori ini ditemukan oleh Gagne yang didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses belajar manusia. Penelitiannya dimaksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Teori pemrosesan informasi umumnya berpijak pada tiga asumsi berikut :
1. Antara stimulus dan respon berpijak pada asumsi, yaitu pemrosesan informasi ketika pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu
2. Stimulus yang diproses melalui tahap-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun isinya
3. Salah satu tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi tersebut, dikembangkan teori tentang komponen, yaitu komponen struktur dan pengatur alur pemrosesan informasi (proses kontrol). Komponen-komponen pemrosesan informasi dipilih berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas bentuk informasi, serta proses terjadinya ”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut :

Sensory Receptor (SR)

Sensory Receptor adalah sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya bertahan dalam waktu yang sangat singkat dan mudah tergangu atau berganti.

Working Memory (WM)

Working Memory diasumsikan mampu menangkap informasi yang mendapat perhatian individu, perhatian dipengaruhi oleh persepsi. KarakteristikWorking Memory adalah memiliki kapasitas terbatas (informasi hanya mampu bertahan 15 detik jika tidak diadakan pengulangan) dan informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Artinya agar informasi dapat bertahan dalam WM, upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas disamping melakukan pengulangan.

 Long Term Memory (LTM)
Long Term Memory diasumsikan: 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan di dalam LTM, ia tidak akan pernah terhapus atau hilang. Sedangkan lupa adalah proses gagalnya memunculkan kembali informasi yang diperlukan.




permasalahan :
1. bisakah kita memamfaatkan semua teori yang ada untuk mendukung proses belajar siswa berdasarkan tujuan pembelajaran yang ingin di capai /
2. apakah baik untuk hasil pembelajaran jika pembelajaran itu selalu di dasarkan pada kognitif seorang anak?
3. agar pembelajaran menjadi efektif teori yang bagaimanakah yang baik digunakan oleh seorang guru untuk siswanya ?

Komentar

  1. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no dua, untuk hasil pembelajaran yang selalu didasarkan pada kognitif anak tidak selamanya baik. Mengapa karena seorang anak yang pengetahuannya bagus tetapi sikap atau tingkah lakunya tidak baik maka itu sama saja dengan nol. Karena dalam dunia pekerjaan nanti yang dilihat adalah bagaimana sikap kita. Untuk apa pintar kalau tidak bisa bersikap sopan. Jadi hasil pembelajaran tidak selali dilihat dari kogniyif anak walaunpun kognitif itu juga penting. Sekian jawaban dari saya terimakasih.

    BalasHapus
  2. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no dua, untuk hasil pembelajaran yang selalu didasarkan pada kognitif anak tidak selamanya baik. Mengapa karena seorang anak yang pengetahuannya bagus tetapi sikap atau tingkah lakunya tidak baik maka itu sama saja dengan nol. Karena dalam dunia pekerjaan nanti yang dilihat adalah bagaimana sikap dan skiil kita. Untuk apa pintar kalau tidak bisa bersikap sopan. Jadi hasil pembelajaran tidak selali dilihat dari kogniyif anak walaunpun kognitif itu juga penting. Sekian jawaban dari saya terimakasih.

    BalasHapus
  3. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2. Kognitif seorang siswa sangat penting dalam proses pembelajaran. Sebagai seorang guru kita harus memahami yang diinginkan oleh siswa, bagaimana cara siswa menanggapi setiap pelajaran yang kita berikan. Kalau hanya dengan berpikir kognitif siswa nanti nya tidak mempunyai kemampuan sosial yang lain nya. Dan kalau menurut saya kognitif itu sangat penting bagi seorang siswa. Tetapi dengan diiringi pengetahuan sosial yang baik. Karena nantinya siswa akan mengganggap pembelajaran secara acuh tak acuh atau tidak mendengarkan penjelasan guru karena terlalu bosan dengan pembelajaran. Jadi sebaiknya pembelajaran sesekali diringi dengan permainan yang dapat membuat siswa tidak bosan, dan dengan pembelajan sosial yang guru berikan.

    BalasHapus
  4. Assalaamu'alaikumaamini, saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 3.
    Pada dasarnya, teori pemrosesan informasi dari berbagai tokoh adalah sama. Guru selaku pendidik memberikan stimulus berupa informasi yang diharapkan siswa dapat merespon stimulus tersebut. Respon yang dimaksud dapat berupa reaksi siswa dalam menyimpan informasi yang disampaikan oleh guru. Selanjutnya, siswa mengolah informasi tersebut dan menghubungkan informasi baru dengan informasi yang ia peroleh sebelumnya. Lalu terjadilah pemrosesan informasi didalam sistem kognitif, apakah akan diolah menjadi memori jangka pendek atau memori jangka panjang.
    Selain itu, tidak dapat dipastikan bahwa ada suatu teori yang lebih baik daripada teori lainnya karena hakikatnya teori-teori tersebut saling melengkapi satu sama lain.

    BalasHapus
  5. Assalaamu'alaikumaamini, saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 3.
    Pada dasarnya, teori pemrosesan informasi dari berbagai tokoh adalah sama. Guru selaku pendidik memberikan stimulus berupa informasi yang diharapkan siswa dapat merespon stimulus tersebut. Respon yang dimaksud dapat berupa reaksi siswa dalam menyimpan informasi yang disampaikan oleh guru. Selanjutnya, siswa mengolah informasi tersebut dan menghubungkan informasi baru dengan informasi yang ia peroleh sebelumnya. Lalu terjadilah pemrosesan informasi didalam sistem kognitif, apakah akan diolah menjadi memori jangka pendek atau memori jangka panjang.
    Selain itu, tidak dapat dipastikan bahwa ada suatu teori yang lebih baik daripada teori lainnya karena hakikatnya teori-teori tersebut saling melengkapi satu sama lain.

    BalasHapus
  6. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2. Kognitif seorang siswa sangat penting dalam proses pembelajaran. Sebagai seorang guru kita harus memahami yang diinginkan oleh siswa, bagaimana cara siswa menanggapi setiap pelajaran yang kita berikan. Kalau hanya dengan berpikir kognitif siswa nanti nya tidak mempunyai kemampuan sosial yang lain nya. Dan kalau menurut saya kognitif itu sangat penting bagi seorang siswa. Tetapi dengan diiringi pengetahuan sosial yang baik.

    BalasHapus
  7. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no dua, untuk hasil pembelajaran yang selalu didasarkan pada kognitif anak tidak selamanya baik. Mengapa karena seorang anak yang pengetahuannya bagus tetapi sikap atau tingkah lakunya tidak baik maka itu sama saja dengan nol. Karena dalam dunia pekerjaan nanti yang dilihat adalah bagaimana sikap dan skiil kita. Untuk apa pintar kalau tidak bisa bersikap sopan. Jadi hasil pembelajaran tidak selali dilihat dari kogniyif anak walaunpun kognitif itu juga penting. Sekian jawaban dari saya terimakasih.

    BalasHapus
  8. Baiklah saya akan menjawab permasalahan nomer 2...Kognitif seorang siswa sangat penting dalam proses pembelajaran. Sebagai seorang guru kita harus memahami yang diinginkan oleh siswa, bagaimana cara siswa menanggapi setiap pelajaran yang kita berikan
    Dan jika kognifit siswa itu bagus maka hasil belajar nya pun menjadi bagus

    BalasHapus
  9. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no 2
    Menurut saya jika pembelajaran didasarkan pada koginitif anak itu bagus agar kognitifnya dapat meningkat proses berfikirnya, namun pembelajarang itu harus melatih kognitifnya buka memberatkan kognitifnya seperti menghapal 1 buku dan lain sebagainya, tapi guru dituntut harus bisa mengembangkan proses berpikir siswa agar kognitifnya tidak terbebani.

    BalasHapus
  10. Menurut saya bisa, karena dengan adanya teori maka bisa menjadi titik acuan dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus
  11. Terima kasih postingan sangat membantu saya

    BalasHapus
  12. Untuk permasalahan yg pertama bisa asalkan mengiKuti semua nya dengan prosedurnya

    BalasHapus
  13. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no dua, untuk hasil pembelajaran yang selalu didasarkan pada kognitif anak tidak selamanya baik. Mengapa karena seorang anak yang pengetahuannya bagus tetapi sikap atau tingkah lakunya tidak baik maka itu sama saja dengan nol. Karena dalam dunia pekerjaan nanti yang dilihat adalah bagaimana sikap kita. Untuk apa pintar kalau tidak bisa bersikap sopan. Jadi hasil pembelajaran tidak selali dilihat dari kogniyif anak walaunpun kognitif itu juga penting. Sekian jawaban dari saya terimakasih

    BalasHapus
  14. Tidak. Karna guru pun harus mengukur tingkat psikomotor dan afektif dari siswa.

    BalasHapus
  15. Teori kognitif merupakan salah satu teori yang paling mendasari penggunaanya dalam proses pembelajaran dari pada teori seperti Behavioristik dan Konstruktifistik. Teori kognitif lebih mementingkan proses belajarnya atau proses menuju pemahaman mengenai sesuatu hal. Berbeda jauh dengan teori Behavioristik yang lebih mementingkan hasilnya.

    Para pakar teori kognitif seperti Piaget, Bruner, dan Ausubel memberikan makna tersendiri tentang teori kognitif. Menurut Piaget kegiatan belajar terjadi seturut dengan pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang, serta melalu proses asimilasi, akomodasi dan equilibrasi.

    Menurut Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahap yang teratur. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung pada tahap sebelumnya.

    BalasHapus
  16. Terimakasih materinya cukup membantu

    BalasHapus
  17. Respon yang dimaksud dapat berupa reaksi siswa dalam menyimpan informasi yang disampaikan oleh guru. Selanjutnya, siswa mengolah informasi tersebut dan menghubungkan informasi baru dengan informasi yang ia peroleh sebelumnya. Lalu terjadilah pemrosesan informasi didalam sistem kognitif, apakah akan diolah menjadi memori jangka pendek atau memori jangka panjang.

    BalasHapus
  18. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2. Kognitif seorang siswa sangat penting dalam proses pembelajaran. Sebagai seorang guru kita harus memahami yang diinginkan oleh siswa, bagaimana cara siswa menanggapi setiap pelajaran yang kita berikan. Kalau hanya dengan berpikir kognitif siswa nanti nya tidak mempunyai kemampuan sosial yang lain nya. Dan kalau menurut saya kognitif itu sangat penting bagi seorang siswa. Tetapi dengan diiringi pengetahuan sosial yang baik. Karena nantinya siswa akan mengganggap pembelajaran secara acuh tak acuh atau tidak mendengarkan penjelasan guru karena terlalu bosan dengan pembelajaran. Jadi sebaiknya pembelajaran sesekali diringi dengan permainan yang dapat membuat siswa tidak bosan, dan dengan pembelajan sosial yang guru berikan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

LANDASAN TEORITIS MULTIMEDIA PEMBELAJARAN

PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

pengembangan media dalam pembelajaran kimia